Seminar Nasional Eduhistory Summit 2026
“Pembelajaran Sejarah Untuk Membangun Pendidikan yang Adaptif dan Inklusif“
Palembang, Prodi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Muhammadiyah Palembang telah mengadakan Seminar Nasional secara online bertemakan “Pembelajaran Sejarah Untuk Membangun Pendidikan yang Adaptif dan inklusif”, pada Jumat 8 Mei 2026. Seminar ini menghadirkan dua narasumber, yaitu Dr. Minarni Nongtji, S.Pd, M.Si., (dosen di Universitas Tadulako), dan Dr.Yuliarni S.Pd. M.Hum., (Dosen Universitas Muhammadiyah Palembang), dimoderatori oleh Ayu Windari, mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah UM Palembang. Seminar Nasional ini diikuti oleh tamu undangan, dosen, mahasiswa dari program studi pendidikan sejarah berbagai universitas seperti UNSRI, UIN, PGRI, UNTAD, dan beberapa kampus lainnya.
Ketua HIMAPESA, Rizki Pratama, menyampaikan sambutan hangat sekaligus apresiasi kepada seluruh tamu undangan dan peserta Seminar Nasional. Ia berharap kegiatan ini dapat menjadi wadah untuk menambah wawasan, memperluas pemahaman, serta menumbuhkan semangat belajar dan berdiskusi mengenai pembelajaran sejarah yang adaptif dan inklusif. Selain itu, ia mengajak seluruh peserta untuk menyimak materi dari para narasumber dengan baik agar ilmu dan pengalaman yang dibagikan dapat bermanfaat bagi pengembangan pendidikan, khususnya pembelajaran sejarah.
Seminar Nasional ini dibuka langsung oleh Wakil Dekan I FKIP Universitas Muhammadiyah Palembang, Erie Agusta, M.Pd. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa seminar ini menjadi wadah akademik penting untuk memperluas wawasan mengenai transformasi pembelajaran sejarah yang adaptif dan inklusif. Beliau juga berharap kegiatan ilmiah seperti ini dapat menumbuhkan semangat inovasi, kreativitas, dan kolaborasi dalam mengembangkan pembelajaran sejarah yang relevan, bermakna, serta mampu menjawab tantangan pendidikan masa kini.
Materi pertama disampaikan oleh Dr. Minarni Nongtji dengan tema “Pembelajaran Sejarah untuk Membangun Pendidikan yang Adaptif dan Inklusif”. Dalam pemaparannya, beliau menekankan pentingnya transformasi pembelajaran sejarah yang relevan, responsif, dan bermakna melalui strategi pembelajaran adaptif, pemanfaatan teknologi digital, serta penerapan pendidikan inklusif agar setiap peserta didik memperoleh kesempatan belajar yang setara.
Dilanjutkan materi kedua oleh Dr.Yuliarni bertajuk “Dari Tong Ngin Fan Ngin Jit Jong ke SDG 10: Pembelajaran Sejarah Adaptif dan Inklusif”. Dalam pemaparannya, beliau membahas tantangan pembelajaran sejarah yang masih konvensional serta pentingnya pemanfaatan teknologi digital dan media interaktif untuk menciptakan pembelajaran sejarah yang lebih inovatif, inklusif, dan mampu mendorong siswa berpikir kritis serta memahami nilai-nilai sejarah dalam kehidupan masa kini.
Pada sesi tanya jawab, Dr. Yuliarni menyoroti tantangan guru dalam menerapkan pembelajaran adaptif dan inklusif, khususnya karena pembelajaran masih banyak berfokus pada buku paket sehingga kearifan lokal belum dimanfaatkan secara optimal. Beliau juga menekankan pentingnya pelatihan berkelanjutan bagi guru agar mampu menciptakan pembelajaran yang kontekstual, adaptif, dan inklusif, serta menegaskan bahwa sejarah tidak hanya sekadar hafalan, tetapi juga membentuk cara berpikir dan bersikap dalam menghadapi perkembangan zaman.
Melalui Seminar Nasional ini, diharapkan tercipta semangat kolaborasi dan inovasi dalam mengembangkan pembelajaran sejarah yang lebih adaptif, inklusif, dan relevan dengan kebutuhan peserta didik di era modern. (Lisa)




Link Youtube kegiatan: https://www.youtube.com/live/4rNp8SyfU3g?si=UmCvwjVb-z97IQyu
