Universitas Muhammadiyah Palembang Menghadirkan Ruang Intelektual yang Hangat Melalui Kegiatan Bincang Sastra
Palembang, 23 Agustus 2025 – Gedung Faqih Usman Universitas Muhammadiyah Palembang sore itu dipenuhi suasana hangat penuh semangat intelektual. Ratusan peserta yang terdiri atas mahasiswa, dosen, sastrawan, serta pegiat literasi hadir dalam forum Bincang Sastra bertema “Merajut Makna dalam Kata: Sastra dan Isu Sosial Kontemporer.”
Acara ini menjadi momentum penting dalam menegaskan kembali peran sastra bukan hanya sebagai karya estetik, tetapi juga sebagai sarana refleksi kritis terhadap kehidupan sosial yang dinamis. Melalui kegiatan ini, Universitas Muhammadiyah Palembang memperlihatkan komitmennya untuk menghadirkan ruang diskusi yang mendalam, yang menghubungkan dunia akademik dengan persoalan nyata masyarakat.
Acara resmi dibuka oleh Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Palembang, Prof. Dr. Indawan Syahri, M.Pd. Dalam sambutannya, beliau menekankan bahwa sastra merupakan cermin kehidupan, wadah untuk merekam peristiwa, serta ruang untuk mengolah rasa dan nalar. Sastra tidak boleh dipandang sebagai sekadar hiburan, melainkan sebagai media pendidikan moral, etika, dan sosial yang mampu membentuk manusia lebih peka terhadap lingkungannya.
Menurut beliau, melalui kata-kata, penulis menghadirkan kritik yang tajam namun tetap halus, menyampaikan keresahan tanpa harus berteriak, serta menghadirkan harapan bagi masa depan yang lebih baik.
Setelah pembukaan, sesi diskusi dimulai dengan Dr. Gunawan Ismail, M.Pd. yang bertindak sebagai moderator. Dengan keahliannya dalam bidang sastra sekaligus retorika, beliau mampu menghidupkan jalannya diskusi sehingga peserta tidak hanya menjadi pendengar pasif, tetapi juga terlibat aktif dalam percakapan.
Dua narasumber dihadirkan dengan latar belakang dan perspektif yang berbeda, namun saling melengkapi yaitu Anwar Putra Bayu, seorang sastrawan yang telah lama berkecimpung dalam dunia kepenulisan dan Linny Oktaviany, M.Pd., akademisi muda sekaligus pegiat literasi yang aktif mengembangkan kajian sastra di lingkungan pendidikan.
Dalam paparannya, Anwar Putra Bayu menegaskan bahwa sastra lahir dari kegelisahan batin penulisnya. Melalui puisi, cerpen, maupun novel, seorang pengarang berusaha menghadirkan realitas sosial yang sering kali tidak tersuarakan. Karya sastra, menurutnya, adalah cara untuk melawan lupa, mengabadikan pengalaman kolektif, serta membangun kesadaran kritis di tengah masyarakat.
Sementara itu, Linny Oktaviany, M.Pd. menekankan pentingnya peran sastra dalam pendidikan formal. Menurutnya, pembelajaran sastra di ruang kelas tidak boleh sebatas membedah struktur teks, tetapi juga harus membimbing mahasiswa menemukan nilai-nilai kehidupan yang terkandung di dalamnya. Dengan begitu, sastra tidak hanya melatih keterampilan bahasa, melainkan juga menumbuhkan empati, toleransi, dan kepedulian sosial.
Diskusi berlangsung penuh interaksi. Mahasiswa dan dosen aktif mengajukan pertanyaan, mulai dari bagaimana sastra dapat menjadi sarana kritik sosial, hingga bagaimana karya sastra bisa tetap relevan di era digital. Beberapa peserta juga berbagi pandangan bahwa membaca karya sastra membuat mereka lebih mampu memahami realitas sekitar dan melihat kehidupan dari sudut pandang orang lain.
Salah satu momen menarik terjadi ketika seorang mahasiswa menanyakan bagaimana sastra bisa berperan dalam isu-isu kemanusiaan global. Narasumber kemudian menjelaskan bahwa sastra memiliki kekuatan universal. Kisah-kisah kemanusiaan yang ditulis dalam bahasa lokal sekalipun tetap dapat menyentuh hati pembaca lintas budaya dan bangsa, karena nilai kemanusiaan bersifat universal.
Diskusi ini semakin menegaskan bahwa sastra tidak pernah lepas dari realitas. Sastra menjadi jembatan antara pengalaman personal dengan persoalan sosial. Dari kata-kata, kita belajar peduli. Dari cerita, kita menemukan makna. Sastra mengajarkan bahwa di balik setiap peristiwa, ada sisi kemanusiaan yang harus dipahami bersama.
Moderator menutup sesi dengan refleksi bahwa Bincang Sastra kali ini berhasil menghadirkan ruang dialog antara pengalaman estetis dengan kesadaran sosial. Forum ini bukan hanya membicarakan sastra, tetapi juga merasakan denyut kehidupan yang tertuang di dalamnya.
Acara kemudian ditutup dengan sesi dokumentasi dan foto bersama antara narasumber, moderator, serta seluruh peserta. Kehangatan terlihat dalam interaksi informal seusai acara, di mana peserta masih melanjutkan obrolan ringan tentang karya-karya sastra yang menjadi inspirasi mereka.
Kehadiran Bincang Sastra ini sekaligus mempertegas peran Universitas Muhammadiyah Palembang sebagai kampus yang tidak hanya fokus pada pengembangan akademik, tetapi juga berkomitmen menumbuhkan budaya literasi dan pemikiran kritis di kalangan sivitas akademika.
Melalui kegiatan seperti ini, sastra diposisikan sebagai ruang bersama untuk merajut makna, menyuarakan realitas, sekaligus membangun kepedulian sosial. Harapannya, kegiatan ini dapat menjadi agenda rutin yang terus menghidupkan atmosfer literasi, sehingga sastra tetap hidup dan relevan di tengah derasnya arus perkembangan zaman.















