img not found!

PPG Calon Guru Gelombang 1 Tahun 2026 Gelar Seminar “Stop Bullying”, Perkuat Komitmen Mewujudkan Sekolah Aman dan Inklusif

PPG Calon Guru Gelombang 1 Tahun 2026 Gelar Seminar “Stop Bullying”, Perkuat Komitmen Mewujudkan Sekolah Aman dan Inklusif

Palembang, 25 April 2026 – Dalam rangka memperkuat kompetensi profesional sekaligus karakter calon pendidik, Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Calon Guru Gelombang 1 Tahun 2026 menyelenggarakan seminar bertajuk “Stop Bullying” pada Sabtu (25/4/2026). Kegiatan yang berlangsung di Gedung Prof. Djakfar Murod, Universitas Muhammadiyah Palembang ini menjadi salah satu agenda penting dalam rangkaian pelaksanaan PPG, dengan fokus pada penguatan pemahaman calon guru mengenai pentingnya menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, inklusif, dan bebas dari segala bentuk perundungan.

Seminar tersebut dihadiri oleh Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Palembang, Prof. Dr. Indawan Syahri, M.Pd., beserta jajaran Wakil Dekan dan Koordinator Program PPG Universitas Muhammadiyah Palembang. Kehadiran pimpinan fakultas menunjukkan komitmen institusi dalam mendukung peningkatan kualitas calon guru, tidak hanya dari sisi kompetensi pedagogik dan akademik, tetapi juga dalam membangun karakter pendidik yang memiliki kepedulian terhadap kesejahteraan peserta didik.

Dalam sambutannya, Prof. Dr. Indawan Syahri, M.Pd., menekankan bahwa fenomena bullying masih menjadi salah satu tantangan serius dalam dunia pendidikan. Menurutnya, sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman bagi setiap anak untuk belajar, berkembang, dan mengaktualisasikan potensi dirinya tanpa rasa takut ataupun tekanan dari lingkungan sekitar. Oleh karena itu, guru memiliki peran sentral sebagai garda terdepan dalam mencegah, mengenali, dan menangani berbagai bentuk perundungan yang dapat terjadi di lingkungan sekolah.

Beliau juga menyampaikan bahwa calon guru perlu dibekali dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang tepat agar mampu membangun budaya sekolah yang positif. Seorang guru tidak hanya berfungsi sebagai penyampai materi pembelajaran, tetapi juga sebagai teladan, pembimbing, sekaligus pelindung bagi peserta didik dalam menciptakan iklim pendidikan yang sehat dan kondusif.

Seminar menghadirkan dua narasumber yang memiliki kompetensi dan pengalaman di bidangnya. Narasumber pertama, Selley Herron, Ph.D. dari Amerika Serikat, memaparkan berbagai perspektif global mengenai pencegahan dan penanganan bullying di lingkungan pendidikan. Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa berbagai negara telah mengembangkan pendekatan yang komprehensif melalui kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat untuk menciptakan budaya yang menghargai keberagaman, empati, serta saling menghormati.

Selley Herron juga menguraikan berbagai bentuk bullying yang kerap terjadi, baik secara fisik, verbal, sosial, maupun melalui media digital (cyberbullying). Ia menekankan pentingnya membangun komunikasi yang terbuka antara guru dan peserta didik agar setiap kasus dapat dikenali sejak dini sebelum berkembang menjadi permasalahan yang lebih kompleks. Selain itu, ia mengajak para calon guru untuk menanamkan nilai-nilai empati, toleransi, serta penghormatan terhadap perbedaan sebagai bagian dari proses pendidikan karakter di sekolah.

Sementara itu, narasumber kedua, Dra. Sri Maryati, M.Si., memberikan pemaparan mengenai implementasi pencegahan bullying dalam konteks pendidikan di Indonesia. Ia menjelaskan bahwa upaya menciptakan sekolah ramah anak memerlukan keterlibatan seluruh warga sekolah, mulai dari kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, peserta didik, hingga orang tua. Menurutnya, pencegahan perundungan tidak cukup hanya dilakukan melalui pemberian sanksi, tetapi harus dibangun melalui budaya sekolah yang positif, pendidikan karakter, serta penguatan nilai-nilai saling menghargai.

Dalam sesi diskusi, Sri Maryati juga membahas berbagai strategi yang dapat diterapkan guru di kelas, seperti membangun komunikasi yang efektif dengan peserta didik, menciptakan suasana belajar yang inklusif, memberikan ruang bagi siswa untuk menyampaikan pendapat dan keluhan, serta melakukan pendampingan terhadap korban maupun pelaku bullying secara edukatif. Pendekatan tersebut dinilai lebih efektif dalam membangun kesadaran bersama dibandingkan dengan pendekatan yang bersifat represif semata.

Seminar berlangsung secara interaktif dengan antusiasme tinggi dari para peserta. Berbagai pertanyaan dan pengalaman dibagikan oleh calon guru mengenai tantangan yang mungkin mereka hadapi ketika nantinya bertugas di sekolah. Diskusi yang berlangsung menunjukkan tingginya kepedulian peserta terhadap isu perlindungan anak serta pentingnya membangun lingkungan pendidikan yang menghargai hak setiap peserta didik.

Melalui kegiatan ini, peserta memperoleh wawasan yang lebih luas mengenai dampak bullying terhadap perkembangan psikologis, sosial, maupun akademik peserta didik. Mereka juga dibekali dengan berbagai strategi praktis dalam mengidentifikasi tanda-tanda perundungan, melakukan langkah-langkah pencegahan, serta membangun budaya sekolah yang lebih aman dan inklusif.

Penyelenggaraan seminar “Stop Bullying” menjadi bagian dari komitmen Program PPG Calon Guru Gelombang 1 Tahun 2026 dalam mencetak guru profesional yang tidak hanya unggul dalam kompetensi akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial, integritas, dan kepedulian terhadap perlindungan peserta didik. Hal ini sejalan dengan tuntutan dunia pendidikan yang menempatkan guru sebagai sosok yang mampu menjadi teladan, pembimbing, sekaligus pelopor dalam menciptakan lingkungan belajar yang sehat dan berkarakter.

Dengan terselenggaranya seminar ini, diharapkan seluruh peserta PPG mampu mengimplementasikan ilmu dan pengalaman yang diperoleh selama kegiatan ke dalam praktik pembelajaran di sekolah. Para calon guru diharapkan menjadi agen perubahan yang mampu menumbuhkan budaya saling menghargai, menghormati keberagaman, serta mencegah terjadinya segala bentuk perundungan, sehingga sekolah benar-benar menjadi tempat yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi setiap peserta didik untuk belajar, tumbuh, dan mengembangkan potensinya secara optimal.